Liburan ini saya sedang membaca buku Oei Hui Lan, kisah tragis putri orang terkaya di Indonesia. Saya tidak akan membuat referensi dalam post ini, saya hanya menceritakan apa yang saya dapat. Oei Hui Lan lahir di Semarang 1899, ayahnya Oei Tiong Ham adalah orang terkaya se asia tenggara pada masanya. Tiong Ham menjadi amat kaya berkat bisnis Gula, Kopra, dan Candu (Opium). Membaca semi-autobiografi Hui Lan seperti membaca cerita putri dalam dongeng, hanya saja ternyata kisahnya sungguh pernah terjadi. Rumahnya 9,2 Ha dilengkapi 42 pembantu dan 50 tukang kebun, dan tidak ada pejabat Belanda yg rumahnya lebih besar dari istana Hui Lan. Rumahnya bergaya Eropa-Cina dengan lantai putih porcelen khas Italia dan dinding sekat bambu khas kerajaan di Cina, selain itu terdapat kebun binatang, danau buatan, pavilion untuk ibunya pijat, rumah bagi para pegawainya. Kegiatan hariannya Hui Lan belajar bahasa Inggris, Prancis, dan Belanda dengan guru asli dari negaranya, belajar menari, musik klasik, berkuda dengan guru-guru yang kompeten. Begitu juga tukang masak masakan Cina, Barat, dan Indonesia masing-masing 1 koki. Pada usia 3 tahun Hui Lan telah memakai kalung intan 80 karat atau sebesar kepalan tangannya. Ayahnya adalah orang pertama yang mengimpor mobil dari eropa untuk dipakainya sendiri, tidak tanggung-tanggung Tiong Ham mengimpor sekaligus empat buah untuk ibu Hui Lan, kakak Hui Lan, Hui Lan dan dirinya sendiri. Binatang peliharaan Hui Lan ada kangguru, monyet, anjing, kuda ponny, dll yang disimpan di kebun binatangnya dan sering diajak main oleh Hui Lan. pada usia 11 tahun Hui Lan dibuatkan pesta oleh ayahnya dengan mengundang belasan tukang masak, belasan pemain musik dan artis yang biasa menghibur pejabat-pejabat di Batavia, dibelikan selusin gaun impor warna-warni dari eropa sebelumnya dipilih Hui Lan untuk digunakan di pestanya. Hui Lan berteman baik dengan kakak dari presiden AS, putri dari Musollini dan banyak bangsawan-bangsawan lain. Ia menikah dengan Wellington Koo seorang menteri luar negri cina yang ikut serta dalam pembentukan PBB. Seperti putri dalam dongeng, Hui Lan biasa mendapatkan segala yang ia inginkan semasa ia kecil dan remaja. Namun kisahnya berlanjut memilukan, lima tahun setelah ia menikah, Tiong Ham meninggal dunia, Hui Lan menduga Lucy Ho, salah satu gundik (istri muda) kesayangan ayahnya itulah yg membunuh ayahnya. Namun ibu Hui Lan tidak mengijinkan otopsi. Warisan yang amat banyak itu menjadi penuh intrik dan membawa banyak perselisihan karena Tiong Ham memiliki 42 anak dan belasan gundik (itu belum termasuk yg tidak dia anggap). Perselisihan dan sengketa harta warisan Oei Tiong Ham belum berhenti hingga detik ini! Membaca kisah Hui Lan yang begitu pemberani, pandai bergaul dan membawa banyak pengaruh pada masanya sangat menyenangkan dan inspiratif. Buku ini mengajarkan kepada siapa saja bahwa kekayaan bukan segalanya dan tidak bisa membeli kebahagiaan, dengan akhir cerita yang memilukan. Tertarik? Membaca sebuah kisah nyata putri dalam dongeng? ;)